Skip to main content

Pramoedya, Tan Malaka, Sastra, dan Blogger Pemula

Hari sabtu 24 Februari sungguh hari yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Aku harus mengalah tidak berjualan demi mengikuti pelatihan pertama Forum Lingkar Pena cabang Ciputat. Seminggu sebelumnya, aku tidak datang. Jadi pada tanggal 24, aku memaksakan langkah kakiku ke Aula Insan Cita HMI Ciputat dimana FLP (singkatan Forum Lingkar Pena) mengadakan pelatihan.
 Aku hanya lulusan SMK Jurusan Otomotif pada tahun 2008 silam. Kalau aku tak belajar seperti mereka-mereka yang kuliah, bagaimana mungkin aku bisa berkembang sebagai manusia, juga dalam peradaban. Apalagi untuk seorang pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Setiap hari, hati tidak pernah diliputi ketenangan, karena takut kalau sewaktu-waktu gerobak daganganku digaruk sama bapak-bapak dari satpol pp. Kalau sudah dibawa bagaimana aku akan menghidupi diriku? Bagaimana aku bisa membeli buku-buku untuk mata pelajaranku?
Mata pelajaranku tentu berbeda dengan mereka yang duduk di bangku akademik. Pelajaranku adalah pelajaran kehidupan. Seseorang boleh berhenti kuliah, tapi dia tidak boleh berhenti belajar. Itu prinsipku. Kalau dia membatasi dirinya dalam belajar, kerdillah segala dalam pikiran dan jiwanya. Dia akan tertinggal jauh oleh zaman yang melesat jauh.
Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh beliau Bapak Republik yang dilupakan oleh bangsa sendiri
“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi” (Madilog, Tan Malaka).
Hendaknya kita tidak menelan mentah-mentah apa yang disampaikan oleh Tan Malaka. Tapi perlu perenungan dan pemaknaan yang lebih dalam.
Apa gunanya mengurangi makanan, pakaian untuk membeli buku-buku, namun buku itu hanya menjadi pajangan belaka? Tak pernah disentuh apalagi dibaca. Buku hanya bermakna apabila dibaca dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang dibaca.
Yang lebih penting lagi, kalau ingin mengurai pernyataan yang disampaikan di atas, bukan hanya mempelajari buku-buku. Tapi semangat dalam mempelajari apapun, termasuk dalam mempelajari blogging. Tan berbicara begitu karena zamannya adalah zaman perbukuan. Belum ada blog dan sosial media seperti di zaman sekarang. Mungkin kalau boleh berandai-andai, seorang Tan Malaka pun pasti akan menganjurkan kita untuk menjadi seorang blogger. Beliau pun mungkin akan menuliskan pemikiran-pemikiran beliau dalam blog. Mungkin saja Madilog akan dituliskan secara berkala di dalam blog. Atau bukan tidak mungkin buku beliau yang lain “Dari Penjara ke Penjara” juga akan dituangkan di dalam blog.
Penulis Indonesia yang lain yang tak kalah menterengnya adalah Pramoedya Ananta Toer yang meninggal pada tahun 2006 silam. Lewat Tetralogi Buru yang terkenal itu (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), secara tersirat beliau menganjurkan angkatan muda untuk menulis. Salah satu kutipan terkenalnya yang banyak dipakai oleh orang-orang yang mengaguminya adalah
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari” kata-kata Nyai Ontosoroh kepada Minke, sang tokoh utama. Secara halus sekali, Bung Pram menganjurkan kita untuk menulis. Karena dengan tulisan kita menjadi abadi. Semasa hidupnya beliau sangat rajin menulis. Usianya yang renta, tidak menghalangi semangat beliau dalam menulis.
Seandainya beliau masih sehat walafiat di saat blog sudah merajalela sebagaimana sekarang, aku yakin, beliau pun akan menulis di dalam blog.
Aku mencintai buku-buku sebagaimana aku mencintai ilmu. Aku berharap dengan menjadi bagian dari FLP, aku akan bertemu dengan kakak-kakak dan sahabat-sahabat yang mencintai buku dan literasi. Awalnya aku mengira, FLP hanya mengajarkan bagaimana menjadi penulis fiksi dan artikel. Tak pernah sekalipun aku berpikir akan ada pelajaran tentang blog dari FLP tempatku mendaftar. Tapi hari itu, pada tanggal 24 Februari 2018, FLP mengundang Kak Ani Berta untuk mengisi pelatihan kami dengan tema “Pelatihan Menulis Blog”. Aku sempat kaget, namun aku juga bahagia di waktu yang bersamaan
Sebenarnya, aku sudah lama memiliki blog ini. Sejak tahun 2010 kalau aku tidak salah ingat. Namun karena kebingungan mengisi konten. Aku tidak tahu apa yang harus aku tulis blog ini.
Pernah terlintas di dalam benakku untuk menulis puisi atau cerpen, karena aku suka sekali menulis fiksi. Akan tetapi, kalau aku mempublikasikan tulisan-tulisanku di blog, maka puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang aku posting tidak akan pernah bisa dikirimkan ke media cetak, atau media online yang menyediakan honorarium bagi para kontributornya. Sehingga aku mendiamkan segala jenis draft yang sudah aku tulis.
Entahlah, Kak Ani Berta mempersilakan kami untuk menulis tentang apapun di blog yang kami punya. Tapi sampai detik ini, aku belum menemukan konten yang sesuai dengan apa yang aku minati. Banyak sekali penulis-penulis yang aku kagumi, dan beliau-beliau memiliki blog masing-masing. Suatu saat aku ingin seperti mereka.
Pada akhirnya, seseorang tidak boleh membatasi diri dalam belajar. Karena pembatasan diri hanya akan menghambat jalannya pelajaran. Belajar tentang apapun. Aku sangat berterima kasih kepada kakak-kakak senior FLP yang sangat ramah dan membantu kami dalam belajar. Tak lupa aku juga mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepada Kak Ani Berta yang di sela-sela kesibukan beliau, masih menyempatkan diri, untuk mengajari kami tentang blogging. Suatu saat, mungkin Tuhan akan mempertemukan aku dan Kak Berta di saat yang lebih baik. Di saat aku sudah menjadi penulis yang dikenal resmi. Amiin.



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Lalu

Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK. Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai...

Perjalanan Kecil

Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri , dan orang tua . Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh. Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif. Selama lima tahun saya putus hubungan de...

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu