Skip to main content

Terlambat

Tiang-tiang runtuh
Rubuh menerpa tubuh-tubuh berpeluh
Kegoncangan meradang garang

Berhenti, cukup, kata mereka
Kebuasan dimiliki hati yang kalap

Kau tahu kenapa rontamu tak didengar?
Penyangga yang kau bangun, muasalnya adalah ratapan

Rebahmu terlambat
Hari sudah terlanjur senja

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pramoedya, Tan Malaka, Sastra, dan Blogger Pemula

Hari sabtu 24 Februari sungguh hari yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Aku harus mengalah tidak berjualan demi mengikuti pelatihan pertama Forum Lingkar Pena cabang Ciputat. Seminggu sebelumnya, aku tidak datang. Jadi pada tanggal 24, aku memaksakan langkah kakiku ke Aula Insan Cita HMI Ciputat dimana FLP (singkatan Forum Lingkar Pena) mengadakan pelatihan.  Aku hanya lulusan SMK Jurusan Otomotif pada tahun 2008 silam. Kalau aku tak belajar seperti mereka-mereka yang kuliah, bagaimana mungkin aku bisa berkembang sebagai manusia, juga dalam peradaban. Apalagi untuk seorang pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Setiap hari, hati tidak pernah diliputi ketenangan, karena takut kalau sewaktu-waktu gerobak daganganku digaruk sama bapak-bapak dari satpol pp. Kalau sudah dibawa bagaimana aku akan menghidupi diriku? Bagaimana aku bisa membeli buku-buku untuk mata pelajaranku? Mata pelajaranku tentu berbeda dengan mereka yang duduk di bangku akademik. Pelajaranku adalah ...

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu

Berlaku Adil Sejak Dalam Pikiran

Tidak dipungkiri, setiap kali bertemu seseorang, pertama kali yang kita lihat dari orang tersebut adalah baju apa yang dia pakai, perhiasannya, dan segala sesuatu yang membungkus tubuhnya. Kita mengesampingkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Padahal bisa jadi, mereka dengan pakaian sederhana, dan tampak lusuh dari luar, memiliki kekayaan ilmu yang luar biasa. Namun itulah manusia, sibuk mendandani fisik, dan lupa membenahi apa yang ada dalam pikiran dan jiwanya.  Sekali waktu saya pernah mengikuti demo kenaikan upah buruh pada tahun 2014 di Bundaran HI. Menurut Serikat Pekerja kami, upah buruh masih belum layak, dengan biaya hidup di kota metropolitan yang sangat tinggi. Yang saya kesal dari peristiwa itu bukan apa-apa, melainkan hanya sebuah peristiwa sepele, namun hal itu masih melekat kuat dalam ingatan saya. Salah satu sahabat saya yang juga mengikuti demo tersebut, kebelet ingin buang air kecil. Saya pun mengantarnya kemana-mana ke toilet terdekat. Namun apa yang ...