Saya selalu mempunyai pertanyaan wajib untuk para pelanggan saya
yang kebanyakan terdiri dari para mahasiswa atau mahasiswi.
“Kakak semester berapa? Jurusan apa? Kenapa mengambil jurusan itu?”
Pertanyaan wajib yang selalu saya lontarkan kepada mereka. Tak jarang
saya sering kena omelan dari mereka karena ketika mereka datang lagi, saya
lupa mereka pernah membeli dagangan saya, dan saya lupa pernah menanyakan hal
itu. Saya langsung memasang wajah seorang pemelas yang seolah tak pernah
melakukan kesalahan.
Jika mereka berasal dari jurusan Psikologi, Sastra (Inggris,
Indonesia, Jepang), sosiologi, atau filsafat, saya biasanya akan dengan mudah
mengajak mereka mengobrol, atau diskusi singkat. Namun selain jurusan tersebut,
Fakultas Kedokteran, Hubungan Internasional, atau Ilmu Politik, otomatis saya
mati kutu. Tapi saya tak pernah kehabisan cara. Biasanya saya akan bertanya
kepada mereka.
“Kakak suka baca? Baca apa? Baca status mantan? Baca buku dong,
emang yang kakak pikirkan baca apa?”
Kalau mereka menjawab iya, suka baca, biasanya saya akan menyebut
penulis-penulis yang saya tahu. Kalau pembicaraan kita nyambung, kita
akan melanjutkan dengan diskusi sedikit panjang. Tak jarang, beberapa dari
mereka, meskipun jajanan yang saya masak sudah matang, mereka seperti masih
ingin melanjutkan pembicaraan. Dari sana saya tahu, kalau kenyamanan datang
dari orang-orang yang sama-sama tahu dan saling mengerti satu sama lain. Dan kalau
sudah nyaman, maka biasanya seseorang akan bertahan lebih lama, ketimbang
mencari lingkungan baru yang sama sekali belum pernah dikenalnya.
Kalau mereka menjawab tak suka baca, sudah, saya mati kutu. Tak bisa
meneruskan pembicaraan singkat. Strategi saya untuk mengajak mereka berbicara,
atau berdiskusi singkat, hanya ingin membuat mereka tak terasa dalam menunggu
jajanan yang saya masak. Karena proses pemasakannya memakan waktu antara
sepuluh sampai lima belas menit. Menunggu selama itu tanpa melakukan apa-apa,
atau tanpa perbincangan apa-apa, waktu akan terasa sangat lama bagi mereka. Dan
ini akan mengurangi poin dalam penjualan.
Sebisa mungkin seorang penjual harus mampu membuat para
pelanggannya senyaman mungkin. Kadang bukan hanya rasa yang mereka cari, sikap
seorang penjual, juga akan mempengaruhi sikap mereka ke kita.
Saya sering berkhayal menjadi seorang mahasiswa. Cita-cita yang
mungkin sudah lewat, kalaupun bisa diwujudkan, maka mau tidak mau saya harus
masuk perguruan tinggi swasta. Tapi ketika saya hendak kuliah, saya selalu
terpikirkan oleh batasan-batasan yang ada di dalam benak saya jika saya menjadi
mahasiswa. Karena di sela-sela menjajakan makanan saya, saya selalu membaca
buku untuk berusaha membunuh waktu. Dari bahan bacaan yang saya baca itulah,
saya berkesempatan berdiskusi dengan mereka. Berusaha menyambung pikiran
mereka, cara berpikir mereka, dan meraba-raba diskusi yang mereka adakan.
Kepekaan mahasiswa terhadap rakyat, polemik kehidupan berbangsa dan
bernegara, adalah tolak ukur, kalau mahasiswa masih menjadi bagian terdepan
dari suatu bangsa. Dua puluh, tiga puluh tahun, atau bahkan jauh sebelum itu,
mereka akan menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan. Namun, saya mengamati,
para mahasiswa lebih suka berseteru antar sesama mereka yang saling bersilang
pendapat. Dan organisasi-organisasi kemahasiswaan banyak sekali yang
menunggangi untuk kepentingan politik suatu tokoh atau parpol. Saya memang tidak
bisa membuktikannya, tapi saya yakin, mereka banyak yang satu suara denganku
dalam hal ini.
Pikiran saya jauh-jauh hari sebelum saya mengenal Jakarta dan
mahasiswa, saya berpikir bahwa semua mahasiswa itu keren dan suka baca. Fakta di
lapangan berkata sebaliknya. Banyak dari mereka yang saya tanya, kuliah di
jurusan yang tidak disukainya. Memang, apapun, termasuk sesuatu yang tidak kita
sukai, suatu saat akan membawa manfaat kepada kita suatu saat, jika kita mau
bersungguh-sungguh di dalamnya. Soal baca, entah berapa banyak mahasiswa yang
tidak suka membaca. Yang jelas prosentasenya sangat besar. Apalagi menulis,
pasti lebih sulit lagi. Saya tidak berusaha menghakimi, atau menilai mereka
bagaimana, itu hak mereka. Namun amat disayangkan, jika mahasiswa tidak suka
membaca. Tidak punya uang untuk membeli buku, bukanlah sebuah alasan yang
diterima bagi seorang mahasiswa untuk tidak membaca. Membaca bisa dari mana
saja. Meminjam sahabat, perpustakaan, bahkan nongkrong di kafe yang menyediakan
bahan bacaan yang menarik, atau main ke toko buku membacai buku-buku yang sudah
dilepas oleh pihak toko bukunya. Bisa juga datang ke toko buku bekas yang
kebanyakan sudah dibuka. Saya pernah berkenalan dengan mereka, dan mereka tidak
terlalu marah atau kecewa jika kita tidak jadi membeli buku yang sudah kita incar.
Membaca di sana pun, tidak menjadi masalah.
Sayangnya, manusia lebih suka mencari alasan-alasan yang tidak
perlu untuk membenarkan segala kemalasan-kemalasannya. Proses belajar tidak
hanya berada di bangku perkuliahan. Kehidupan, semenjak kita lahir adalah
tempat belajar paling murni, paling akhir, hingga dunia ini sudah tidak
membutuhkan kita lagi. Guru terbaik adalah alam dan pengalaman.
Comments
Post a Comment