Skip to main content

Berlaku Adil Sejak Dalam Pikiran

Tidak dipungkiri, setiap kali bertemu seseorang, pertama kali yang kita lihat dari orang tersebut adalah baju apa yang dia pakai, perhiasannya, dan segala sesuatu yang membungkus tubuhnya. Kita mengesampingkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Padahal bisa jadi, mereka dengan pakaian sederhana, dan tampak lusuh dari luar, memiliki kekayaan ilmu yang luar biasa. Namun itulah manusia, sibuk mendandani fisik, dan lupa membenahi apa yang ada dalam pikiran dan jiwanya. 

Sekali waktu saya pernah mengikuti demo kenaikan upah buruh pada tahun 2014 di Bundaran HI. Menurut Serikat Pekerja kami, upah buruh masih belum layak, dengan biaya hidup di kota metropolitan yang sangat tinggi. Yang saya kesal dari peristiwa itu bukan apa-apa, melainkan hanya sebuah peristiwa sepele, namun hal itu masih melekat kuat dalam ingatan saya. Salah satu sahabat saya yang juga mengikuti demo tersebut, kebelet ingin buang air kecil. Saya pun mengantarnya kemana-mana ke toilet terdekat. Namun apa yang kami temui? Masjid dikunci. Dan toilet dimana-mana ada yang tidak mengalir airnya. Akhirnya kami mau masuk Plaza Indonesia. Hanya karena pakaian kami pakaian seorang buruh, kami ditolak untuk masuk ke dalamnya. Saya menjelaskan kepada satpam, sahabat saya kebelet buang air kecil. Sudah diduga jawabannya, kami disuruh mencari toilet lain. Apa karena pakaian kami pakaian seorang buruh sehingga mereka tak mau menerima kami? 

Orang kecil, buruh, sering diperlakukan tidak adil oleh para penguasa. Mereka maunya kami manut dan tunduk terhadap segala sesuatu yang mereka putuskan. Dan ketika kami hendak bersuara, mereka memberikan sebuah penyambutan yang palsu. Seolah-olah mereka menerima, namun sejatinya mereka tidak akan pernah mau mendengar celoteh dari kami, suara rakyat kecil. 

Pakaian yang membungkus tubuh manusia, adalah kepalsuan yang dikejar dan mereka menuntut terhadap diri mereka sendiri secara sempurna dalam hal penampilan. Manusia sering mengejar kepalsuan dan melupakan kesejatian.

Saya pernah berpikir seandainya orang seperti saya, rakyat kecil, memakai sarung, peci, dan baju koko ketika hendak menonton bioskop, pasti orang-orang akan melihat saya dengan pandangan aneh, dan bukan tidak mungkin malah merendahkan. Dalam hati mereka mungkin saja bersuara orang ini norak amat sih. Akan lain ceritanya kalau Presiden Jancukers yang melakukan hal itu. Tak sedikit mungkin orang-orang akan meminta foto dan tanda tangan dari Mbah Djiwo. Dua hal yang sama dilakukan oleh dua orang yang berbeda menimbulkan kesimpulan yang berbeda pula. Jika kita bisa bukan siapa-siapa kita tidak bisa berkata dan melakukan apapun. Dalam arti, orang-orang akan sulit mendengar suara kita, atau meneladani sikap kita meskipun apa yang kita ucapkan dan kita lakukan adalah sebuah kebaikan. Itu kenapa banyak orang yang berhenti berbuat baik, karena kebaikan mereka tidak dianggap oleh orang-orang disekitarnya. Mereka yang berbuat kebaikan itu, seperti melakukan perbuatan yang sia-sia karena tidak ada penghargaan dari manusia lainnya.

Sekali waktu yang lain, saat saya baru saja pulang dari Kalimantan, setelah merantau selama dua setengah tahun, orang-orang pun menatap saya dengan pandangan aneh. Kemana-mana saya memakai blangkon. Mereka bertanya pada saya, “Kamu ngaji dimana? Kok pulang dari merantau jadi aneh”. Saya sungguh tak mengerti. Apa hubungannya memakai blangkon dan ngaji? Dua hal ini berbeda  dari segi konteks dan tempat. Tapi mereka menyandingkan dua hal yang berbeda jauh itu sebagai satu kesatuan. Saya hanya menanggapi mereka dengan senyuman. Apa yang aneh dari blangkon? Bukankah itu budaya yang sepertinya sudah mulai dilupakan? Apa karena dia memakai blangkon maka mereka disebut orang jawa, dalang, atau priyayi? Lagi-lagi manusia melihat dari apa yang tampak. 

Saya bersemangat memakai blangkon, karena guru bangsa, Pak Tjokro, yang disebut sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota, kemana-mana beliau memahkotai kepalanya dengan blangkon. Namun pada akhirnya setelah kemerdekaan, blangkon digantikan songkok berwarna hitam yang dipopulerkan oleh Bapak Revolusi, Bung Karno. Ya apa salahnya saya memakai blangkon, saya hanya ingin mengingat-ingat jasa-jasa beliau dalam bangsa ini. Pemimpin besar bangsa ini, Ketua Sarekat Islam yang sangat disegani, dan anak didiknya dikemudian hari menjadi orang-orang besar. Semaoen, Soekarno, Kartosoewirjo, ketiganya adalah beberapa contoh yang di kemudian hari menjadi pejuang dalam keyakinannya masing-masing. Hanya karena blangkon, mereka mencemooh saya meski dalam hati, mengerdilkan saya dalam penilaian-penilaian mereka.

Jika boleh mengutip Buya Hamka, dalam salah satu novelnya yang difilmkan “Di Bawah Lindungan Kakbah”, ada ungkapan

“Jangan menilai dari apa yang tampak, karena apa yang tampak berasal dari apa yang tak tampak”. 

Manusia terlalu sibuk dengan penampilan dan menilai orang lain. Tapi dia lupa terhadap kebahagiaannya sendiri, lupa telah mengacuhkan keluarganya, dan dia hanya bersenang-senang dengan mengolok-olok dan mencampuri kehidupan orang lain.

Penutup saya lagi-lagi mengutip quote dari Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer.

“Manusia harus sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”.

Kita tak berhak menghakimi seseorang karena apa yang dia kenakan, kita berhak menghakimi seseorang setelah tahu apa yang dia lakukan terhadap lingkungan dan sekitarnya.

“Berlaku adil-lah sejak dalam pikiran. Jangan menjadi hakim bila kau belum tahu duduk perkara yang sebenarnya”

Kata-kata Jean Marais kepada Minke yang tidak akan pernah saya lupakan. Seolah Bung Pram mengatakannya langsung kepada saya.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pramoedya, Tan Malaka, Sastra, dan Blogger Pemula

Hari sabtu 24 Februari sungguh hari yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Aku harus mengalah tidak berjualan demi mengikuti pelatihan pertama Forum Lingkar Pena cabang Ciputat. Seminggu sebelumnya, aku tidak datang. Jadi pada tanggal 24, aku memaksakan langkah kakiku ke Aula Insan Cita HMI Ciputat dimana FLP (singkatan Forum Lingkar Pena) mengadakan pelatihan.  Aku hanya lulusan SMK Jurusan Otomotif pada tahun 2008 silam. Kalau aku tak belajar seperti mereka-mereka yang kuliah, bagaimana mungkin aku bisa berkembang sebagai manusia, juga dalam peradaban. Apalagi untuk seorang pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Setiap hari, hati tidak pernah diliputi ketenangan, karena takut kalau sewaktu-waktu gerobak daganganku digaruk sama bapak-bapak dari satpol pp. Kalau sudah dibawa bagaimana aku akan menghidupi diriku? Bagaimana aku bisa membeli buku-buku untuk mata pelajaranku? Mata pelajaranku tentu berbeda dengan mereka yang duduk di bangku akademik. Pelajaranku adalah ...

Gerakan Islam untuk Kejayaan Bangsa

“Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq ”. Hadis ini pasti tidak asing dan sering kita dengar. Sebagian besar dari kita (termasuk saya sendiri), mungkin terdengar biasa saja. Mungkin pula kalau ada kajian di masjid membahas tentang hal tersebut, saat kita pernah mendengarnya secara tidak sengaja, entah sedang mengerjakan tugas (kuliah, rumah, atau pekerjaan kantor yang belum selesai), bermain gawai, atau hanya sedang melamun, dan tiba-tiba kita mendengar hadis itu dalam kajian akhlaq. Kita mendengarkannya sambil lalu. Tidak meresapi sampai ke dalam sanubari.   Jangan tanyakan kepada saya itu hadis riwayat siapa, sahih atau tidak, karena saya sangat jauh kompetensinya dari hal tersebut. Lebih baik bertanya kepada yang menguasai bidang tersebut. Bukan hadisnya yang hendak saya permasalahkan di sini, tapi saya mempermasalahkan sikap sebagian orang yang banyak sekali mengacuhkan nasehat baik. Sudah lama islam mengalami banyak sekali kemunduran da...