Orang-orang
mencemooh atau menertawakan nama yang saya gunakan di dunia maya. Nama alay
kata mereka. Bahkan salah seorang sahabat saya berceletuk
“Bacaannya
Pram kok namanya alay begitu. Ra mbois blas. Seharusnya Mas ini jadi
penerus Tere Liye saja. Nggak cocok pengagum Pram memakai nama alay
begitu”.
Atau
celetukan sahabat saya yang lain,
“Tulisanmu
bagus, menginspirasi, tapi itu loh, nama yang kamu pakai. Aduh-aduh nggak
ada keren-kerennya”.
Saya
hanya tersenyum mendengar celotehan, atau ejekan-ejekan mereka. Saya tak perlu
menimpali terlalu banyak. Karena semakin saya menimpali akan terjadi sebuah
perdebatan yang panjang. Peredebatan tanpa ujung.
Untuk
nama akun sosial media, entah Fb, twitter, instagram, path, blog, dan
lain-lain, saya menggunakan inisial nama yang sama. Dan hampir mirip-mirip. Pendapat
saya untuk nama di dunia maya, saya lebih suka mengutip pendapat William
Shakespeare.
“Apalah
arti sebuah nama”.
Saya
hanya ingin dikenal dengan nama yang saya nobatkan sendiri di dunia maya. Biarlah
mereka yang mengenal saya di dunia maya dengan nama itu, tetap mengenal saya
dengan cara seperti itu. Dan mereka yang sudah mengenal saya di dunia nyata,
lebih baik mereka pun tetap mengenal saya seperti itu pula.
Lain
lagi halnya dengan nama yang sudah dilekatkan kepada kita, oleh orang tua kita
sejak kita dilahirkan. Saya lebih suka mengutip pendapat orang Jawa secara
umum.
“Asma
kuwi kinarya japa”.
Artinya
kurang lebih, nama itu adalah sebuah doa. Orang tua ketika menamai seorang anak,
pasti memiliki harapan yang sangat besar terhadap anak-anaknya. Harapan itu
diletakkan pada nama mereka. Menurut Pram, orang Jawa terlalu membesarkan
nama-nama, namun mereka kerdil dalam pikiran. Pembesar-pembesar Jawa di masa
kolonialisme adalah contoh yang selalu diangkat Pram. Raja-raja di masa itu
ingin terlihat agung, besar, dan berusaha menjadi pahlawan untuk menjadi
rakyatnya. Mereka memiliki nama yang besar dan agung. Menurut Pram mereka
terlalu membesarkan nama-nama mereka. Dengan nama besar yang melekat kuat dalam
diri seorang raja, mereka merasa bisa menjadi pahlawan, mereka berusaha
mengusir penjajah sendirian. Tanpa ada penyatuan-penyatuan dengan raja-raja
yang lain. Hingga akhirnya, mereka kalah, porak poranda. Sebelum masa
kebangkitan nasional, raja-raja berjuang sendiri-sendiri, dan melakukan
perlawanan yang tak terlalu berarti.
Nama
melekat kuat sejak manusia itu diberi nama. Namun julukan, bisa berasal dari
orang lain. Kadang orang-orang lebih suka memanggil dan lebih mengenal seorang
sosok lewat julukan daripada nama aslinya. Seperti yang terjadi pada Walisanga,
orang lebih mengenal mereka dengan julukan sunan (artinya yang ditinggikan,
dimuliakan, dihormati, dimuliakan, berasal dari kata susuhunan). Mungkin sedikit
yang masih ingat nama asli dari para Walisanga tersebut.
Hendaknya
manusia tak meributkan nama-nama dengan terlalu besar. Apa artinya nama Arif
tapi dalam kehidupan sehari-hari sama sekali tak tercermin sebuah tindak-tanduk
kearifan? Lebih baik ia yang memiliki nama biasa, namun memiliki perilaku yang
sangat bijak dalam keseharian. Harusnya masing-masing dari kita tidak melihat
namanya dulu, atau melihat nama sekadar supaya kita dengan mudah mengenali
orang tersebut. Namun, kembali lagi, kita lebih melihat apa yang dilakukan,
bagaimana tindak-tanduknya sehari-hari. Menilai dari tindakan tentu lebih
bijak, daripada menilai seseorang dari nama yang ia gunakan. Entah itu nama
yang sudah melekat padanya sejak lahir, julukan dari orang lain, atau nama yang
ia nobatkan sendiri dalam kehidupannya. Setiap nama, memiliki sejarah sendiri
sebelum dilekatkan pada diri seseorang.
Nama
memudahkan kita mengenal seseorang. Tanpa nama, kita akan sulit memanggilnya. Salah
besar kalau kita menghakimi seseorang lewat namanya. Bukan lewat karya atau
perilakunya.
Manusia
modern, kebanyakan memberikan nama kepada anak-anak mereka yang panjang. Mereka
pasti memiliki harapan yang sangat besar terhadap anak-anaknya suatu hari
nanti. Ada istilah keberatan nama bagi orang Jawa. Kalau seorang anak
sakit-sakitan, banyak yang menganggap mereka kabotan jeneng (keberatan nama). Biasanya
nama mereka akan diganti, dengan mengadakan tumpengan atau selamatan terlebih
dulu. Beberapa dari kita yang mengaku modern, mungkin menganggap mereka
memiliki pikiran yang kerdil. Bagaimana mungkin sebuah nama bisa membuat
seseorang sakit-sakitan?
Bung Karno, kalau kita mau menelusuri jejak hidup
beliau, beliau adalah salah satu yang dianggap keberatan nama. Nama kecilnya
adalah Kusno. Namun karena sakit-sakitan, kedua orang tuanya merasa nama yang
diberikan kepada beliau kabotan (keberatan), mereka mengganti namanya dengan Karno.
Terinspirasi dari tokoh wayang Adipati Karno. Dan tak sekalipun Bung Karno
mengerdilkan pikiran kedua orang tuanya. Sebelum mengerdilkan sebuah budaya
atau adat istiadat masyarakat, alangkah lebih baik, jika kita menelaah,
bagaimana adat istiadat itu terbentuk. Setiap budaya pun memiliki sejarah dan
cerita sendiri-sendiri.
Pengerdilan
kepada masyarakat jelata yang kebanyakan masih percaya mistis, adalah tindakan
yang sembrono. Bukankah kita juga yang mengaku masyarakat modern sebenarnya lebih kerdil. Kita mendewakan komputer, gawai, ponsel, dan alat-alat lain. Seolah tanpa
alat yang diciptakan oleh teknologi tersebut, kita tidak bisa hidup, dan tak
bisa melakukan apapun.
Comments
Post a Comment