Skip to main content

Industri dan Kemanusiaan


Sekilas mendengar kata industri, adalah sebuah kata yang maju, membangun, keren, dan memesona. Di balik itu, ada sebuah kekejaman tersirat dari sebuah perindustrian. Tenaga yang diperah untuk kepentingan para kapital, tentu dengan upah yang disepakati oleh serikat pekerja dan petinggi perusahaan. Karena industri melibatkan tenaga manusia.
Waktu adalah hal yang sangat penting bagi industri produksi. Waktu bekerja dan istirahat diatur sedemikian rupa. Istirahat melewati batas tentu akan terkena teguran. Bagi perusahaan yang memberlakukan tiga shift, pagi, siang, dan malam, tentu mereka tak ingin waktu sedetikpun terbuang sia-sia. Setiap shift memiliki target yang harus dicapai selama delapan jam kerja. Perusahaan produksi biasanya memiliki satu unit kelompok yang memroduksi produk tertentu. Anggaplah shift satu disebut kelompok A, shift dua kelompok B, dan shift tiga kelompok C. Setiap kelompok, dipimpin oleh seorang mandor.
Akan menjadi sebuah pertanyaan besar, bagi petinggi perusahaan, ketika salah satu kelompok, tidak memenuhi target yang sudah ditetapkan. Ada apakah gerangan? Ketika tak ada alasan apapun, maka sang mandor akan berusaha mereka-reka sebisa mungkin. Ada sesuatu yang salah dengan mesinnya, ada perbaikan dari pihak maintenance, dan lain sebagainya. Para mandor tentu tak ingin disidak oleh atasannya, entah karena salah seorang anggota kelompoknya tidak masuk kerja atau sedang sakit. Atasan tak pernah mau menerima alasan-alasan seperti itu. Mandor yang disukai anggota bawahannya, biasanya melindungi kesalahan-kesalahan anak buahnya.
Pertanyaan besar bukan hanya muncul ketika jumlah produksi kurang. Jumlah produksi yang lebih pun, akan dipertanyakan. Pertanyaannya bukan kenapa. Tetapi pertanyaannya berupa, kalau kelompok A saja bisa, kenapa kelompok B dan C tidak bisa. Petinggi perusahaan pun akan menggelar rapat, dengan segala perhitungan, selama jumlah produksi yang dihasilkan selisihnya tidak terlalu banyak dari target yang ditetapkan, maka hal itu dianggap wajar. Jika jumlah produksi kelebihan satu atau dua barang misalnya terlalu sering dari sebuah kelompok, maka target produksi akan dinaikkan. Dengan alasan kelompok A saja bisa secara terus menerus memroduksi dengan jumlah yang stabil, harusnya kelommpok B dan C pun bisa.
Yang membuat sebal para karyawan yang paling bawah adalah, ketika mereka mampu memroduksi jumlah yang lebih dari target, maka yang cepat naik golongan adalah atasan mereka. Bukan para karyawan. Kebanyakan para karyawan mengeluh, karena merasa kerja keras mereka tak dihargai. Mereka tak dianggap. Kecuali, para karyawan yang sering mencari muka di hadapan atasannya. Pandai memainkan lidahnya yang tak bertulang, dan tak segan, menjatuhkan anggota kelompoknya.
Pabrik adalah kehidupan yang keras dan disiplin, dan perlahan, sisi kemanusiaan menghilang. Semuanya diukur dengan waktu dan materi. Apresiasi yang dilakukan perusahaan lebih banyak berupa materi, meskipun ada beberapa model perusahaan yang memberikan apresiasi berupa pelatihan-pelatihan. Namun jumlahnya sangat sedikit.
Ada sebuah peristiwa dimana salah seorang anggota karyawan meninggal dunia. Kebanyakan yang peduli, hanya para karyawan yang satu kelompok dengannya. Paling atas hanya mandor yang mengucapkan bela sungkawa. Tidak ada apel duka cita, tidak ada kata direktur perusahaan mengucapkan bela sungkawa, atau berusaha mengumpulkan dana untuk membantu meringankan beban karyawan tersebut. Justru solidaritas datang dari sesama karyawan yang berinisiatif menggalang dana.
Peristiwa kecelakaan kecuali yang terlalu parah, pun tidak membuat para eksekutif perusahaan merasa iba hati. Sudah cukup perwakilan dari perusahaan yang diwakili oleh serikat pekerja. Apakah rasa kemanusiaan bisa diwakili oleh serikat pekerja?
Bangsamu yang besar bernama Indonesia, dulu bernama Nusantara, dan disebut pula disebut Dipantara. Nusantara dan Dipantara seolah sudah dilupakan. Apa hubungannya dengan perindustrian? Bangsa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Kalau saja kita bangsa yang tidak mengenal kemanusiaan, maka tak ada cerita Portugis, Belanda, NICA, pedagang-pedagang islam, tentu tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sini. Kita adalah bangsa yang ramah. Namun, mereka, para pendatang itu lupa diri. Mereka merampas alam kita, dengan meriam, dengan penindasan, dengan penjajahan. Bangsa ini desebut sebagai bangsa yang kerdil, tak bisa baca tulis. Mereka tidak tahu, bahwa kebanyakan dari bangsa kita, mampu membaca berbagai macam jenis huruf. Dari Arab Pegon, Hanacaraka, dan Sansekerta. Kita dipaksa untuk mempelajari kebudayaan dan bahasa mereka. Sementara mereka dengan angkuh, tak mau mempelajari apa yang ada di dalam diri bangsa yang hendak dijajahnya.
Industri datang bukan dari bangsa kita. Perlahan, kemanusiaan digerus perindustrian, secara perlahan. Industri dengan prinsip ekonomi, mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya untuk meraih modal yang sebesar-besarnya yang diajarkan di sekolah-sekolah hendaknya diganti dengan prinsip ekonomi yang lain yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan yang paling adil adalah memanusiakan manusia.
Satu hal yang digaungkan oleh Karl Max adalah kaum buruh seduia bersatulah. Dengan bersatu, kita akan mengenal kemanusiaan secara lebih mendalam. Saya mengutip Karl Max, bukan berarti saya seorang Marxis. Industri, jangan sampai melupakan sisi kemanusiaan. Proletar pun, berhak berjuang.



Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Lalu

Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK. Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai...

Perjalanan Kecil

Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri , dan orang tua . Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh. Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif. Selama lima tahun saya putus hubungan de...

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu