Saya terlambat
mengenal buku-buku Pramoedya. Saya menyukai sastra sejak SMP, dan sering
mendengar nama Pramoedya baru beberapa tahun belakangan. Namun, membaca buku
Pram, saya berjodoh baru setahun lalu. Di sekolah, sastrawan yang sangat
tersohor di luar negeri tersebut tidak pernah disebutkan di sekolah. Dalam
pelajaran bahasa Indonesia dalam hal puisi tentu Chairil, Sapardi Djoko Damono,
W.S Rendra masih menjadi favorit dalam hal pengajaran puisi. Guru-guru saya
lebih banyak menjelaskan sastrawan era Balai Pustaka yang dikelompokkan oleh
Jassin. Lebih sering kita diberi tugas untuk menelaah tulisan-tulisan Abdoel
Moeis, Sutan Takdir Alisyahbana, Marah Roesli dan seangkatannya. Entah kenapa
hal itu terjadi. Saya lulus SMP tahun 2005, dan seharusnya (menurut saya
pribadi) di kala itu sudah ada pembaruan untuk materi sastra. Saya baru
mendengar nama Ayu Utami dan Eka Kurniawan juga baru belakangan ini. Saman terbit
tahun 1998, Cantik itu Luka, pertama kali terbit tahun 2002. Khazanah keilmuan
sastra di sekolah harusnya diperluas tidak itu-itu saja, karena bisa membuat
jemu siswa didik. Setidaknya, kalaupun tidak membaca buku mereka, tahu sedikit
biografi dan judul karya sastra yang mereka tulis saya rasa cukup. Hidup
berkembang, karya sastra berkembang, tapi pengajaran sastra di sekolah seolah
berjalan di tempat (waktu saya sekolah).
Entah apa yang
membuat nama Pramoedya tidak dimasukkan ke dalam pengajaran Pendidikan Bahasa
Indonesia. Mungkin faktor politik orde baru yang masih dipakai di era tahun
2000-an. Pram yang merupakan salah satu corong dari Lekra, yang berafiliasi
dengan Partai Komunis Indonesia dianggap sebagai musuh bangsa, dan dituduh mengajarkan
komunisme. Namun sampai beliau meninggal, tuduhan tersebut tidak bisa
dibuktikan, bahkan sampai sekarang tuduhan itu tidak memiliki proses pengadilan
yang jelas.
Sungguh ironi,
di saat buku-buku Pram menjadi bacaan wajib di beberapa sekolah di Amerika dan
di Malaysia, buku beliau di negeri sendiri dilarang beredar. Siapa yang
menyembunyikan buku-buku Pram, ditangkap oleh orde baru, dituduh dengan alasan
pengikut PKI. Pram mendapatkan tempat yang tidak layak di negeri sendiri. Justru
dari luar negeri lah beliau mendapatkan banyak sekali penghargaan, bahkan
sering menjadi kandidat peraih nobel sastra. Pram bahkan mendapatkan gelar
doktor dari Universitas Michigan karena kontribusinya dalam bidang sastra.
Seorang yang bahkan SMP saja tidak lulus, bukankah itu prestasi yang luar
biasa?
Pram dan Lekra
memang mengusung tema Realisme Sosialis. Menentang Manikebu dengan jargonnya
Humanisme Universal. Terlepas dari pertikaian dari kedua kubu, saya tidak
berhak untuk menghakimi (meskipun hanya dalam pikiran) siapa yang salah, dan
siapa yang benar. Pihak Manikebu hanya takut kekuasaan negara akan jatuh ke
tangan PKI.
Kedekatan Bung
Karno dengan Uni Soviet di sekitar tahun 60an, membawa dampak yang sangat besar
bagi Lekra. Manikebu dilarang, Lekra banyak sekali menyerang Manikebu. Salah
satu yang mungkin sulit dilupakan adalah tuduhan Lekra, lewat tangan Abdullah
S.P (kemungkinan nama pena Pramoedya) yang menuduh novel Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck karya Buya Hamka sebagai plagiat dari novel Magdalena yang merupakan
saduran syair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi dari novel yang ditulis oleh
pengarang Prancis Alphonse Karr, Sous Les Tilleuls.
Terlepas dari
pergolakan sastra dengan politik di masa itu, hendaknya kita sebagai generasi
berikutnya membaca tulisan-tulisan mereka, untuk menyelami apa yang
sesungguhnya apa yang terjadi di masa itu. Yang tahu hanyalah beliau-beliau
yang pernah menjadi saksi hidup. Mungkin di antaranya adalah Goenawan Mohammad
yang sekarang bergabung dengan komunitas Salihara bersama Ayu Utami, dan Taufiq
Ismail yang sekarang bergabung dengan Forum Lingkar Pena yang didirikan oleh
Helvy Tiana Rosa.
Bukankah lebih
adil jika kita membicarakan karya dibanding perseteruan tak berujung itu? Tetralogi
Buru diterjemahkan lebih dari 42 bahasa asing. Tentu sebuah prestasi yang luar
biasa untuk seseorang yang bahkan tidak lulus SMP.
Buya Hamka
adalah seseorang yang sangat lembut hati. Tulisan-tulisannya sangat menyentuh
kalbu, meneduhkan jiwa, menentramkan pikiran. Setidaknya bagi saya. Entah bagi
orang lain. Dalam pengajaran bahasa Indonesia pun, nama beliau sedikit atau
mungkin juga hampir tidak pernah disebut sebagai seorang sastrawan. Beliau yang
pernah menjabat sebagai ketua MUI pertama dikucilkan oleh orde lama, atas
kritikannya terhadap Bung Karno. Beliau pun dipenjara. Di penjara itulah, salah
satu mahakarya beliau lahir. Tafsir Al Azhar. Salah satu bukti beliau bukanlah
seorang pendendam adalah, ketika Sukarno wafat, beliau diminta mengimami sholat
jenazah. Orang selain Buya Hamka mungkin akan menolak mentah-mentah permintaan
pemerintah yang pernah memenjarakannya. Tapi beliau bersedia mengimami sholat
jenazah Sukarno.
Saat orde baru
berkuasa, situasi berbalik. Pramoedya ditahan di pulau Buru. Dari sana lahir
tetralogi Bumi Manusia yang terkenal itu, yang awalnya hanya diceritakan dari
mulut ke mulut, karena awal kedatangan beliau di pulau Buru, beliau sama sekali
dilarang mengetik.
Karya besar
lahir dari tempat yang tidak diduga. Buya Hamka, dan Pramoedya salah satu
contoh. Jangan menjadi hakim jika belum membaca tulisan-tulisan mereka. Kadang
penolakan kita akan sebuah karya, membuat kerdil pikiran-pikiran kita.
Indonesia
sangat kurang menghargai para senimannya, khususnya, sastrawannya. Sastra dan
realitas dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Realitas berkembang, maka sastra
pun berkembang. Karena sastra adalah refleksi dari realita (menurut saya). Para
pendidik harusnya mendidik dengan porsi yang adil terhadap sastrawan-sastrawan
yang mungkin belum pernah didengar oleh siswa didiknya.
Bagus banget bang tulisannya. Saya setuju dengan pendapat abang. Memang dulu ketika saya Smp pun tidak pernah mendengar nama Pram. Ternyata memang ada permainan politik Di dalamnya.
ReplyDelete