Skip to main content

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan
Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut
Awan mengelabu
Udara yang kuhirup menyesakkan

Aku goyah dalam kelinglungan
Tak kudapati setitik pun cahaya
Langkah gontai berayun
Menelusurkan diri pada kegelapan

Aku bukan kosong
Jiwa dan benakku penuh dengan isi
Meski dengan kemuraman bergelayut

Ledakannya begitu hebat
Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku
Aku mujur atau hancur
Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya

Aku tenggelam
Dan aku ingin tenggelam lebih dalam
Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai
Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku

"Kau tak sendiri kawan" kata mereka

Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu

Katanya sebelum berpisah

"Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu

Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Lalu

Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK. Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai...

Perjalanan Kecil

Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri , dan orang tua . Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh. Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif. Selama lima tahun saya putus hubungan de...