Skip to main content

Sekeping Rahasia


Setiap orang memiliki rahasia. Menurut saya, setiap orang memiliki sekeping rahasia yang tidak akan pernah diceritakan kepada orang terdekat sekali pun. Bahkan kepada pasangan hidup, anak-anak, atau kedua orang tua mereka. Sekeping rahasia yang dibiarkan mengendap, menjadi kristal-kristal bening yang mengabadi, dan mungkin hanya akan terkuak setelah manusia mengalami kematian. Setelah manusia menghadapi persidangan terakhir, sebelum ditentukan tempat tinggal yang sesungguhnya.
Tak ada manusia yang sempurna. Terdengar klise memang. Semua orang mungkin sudah pernah mengoarkan hal yang sama. Terlalu sering manusia melalu-lalangkan sebuah nasehat baik.
Seorang suami saleh, mungkin tidak akan menceritakan pengalaman buruk yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Entah dia adalah seorang begal di jalanan, perampok, maling, atau yang lebih keji, seorang laki-laki yang suka meniduri perempuan cantik. Ketika semua orang tahu, tentang masa lalunya, mungkin ia akan dicaci, dipandang sebelah mata, atau mungkin istri yang tidak bisa menyikapinya dengan bijak, tak akan mau hidup serumah lagi dengannya. Tak semua masa lalu harus dikuak. Manusia tak berhak menghakimi. Semesta bertindak terhadap apa yang sudah dititahkan Tuhan kepada manusia sebelum kita diciptakan.
Seorang perempuan, yang berusaha membenahi hidupnya, yang dulu merupakan, maaf, seorang pelacur yang menjajakan diri. Jika anda lelaki bijak yang mencintainya, maka anda tak akan pernah peduli dengan masa lalunya. Yang anda perlu lakukan, hanya menikahlah dengan dia, perbaikilah hidupnya, lindungi dia, dan jangan pernah anda pertanyakan masa lalunya. Masa lalu biarkan hidup menjadi kenangan, biarkan menjadi mutiara-mutiara berkilauan yang menghiasi hidupnya.
Mungkin banyak, anak jalanan yang urakan, hidup dalam morat-maritnya kehidupan, sehingga mereka terpaksa hidup dengan meresahkan masyarakat. Namun, saat mereka ingin kembali kehidupan yang baik, bagaimana uluran tangan kita terhadap mereka. Kebanyakan dari kita lebih memilih untuk memicingkan mata. Kalau nanti, mencuri lagi gimana? Nanti akan kena imbasnya. Kalau berbuat onar gimana? Nanti kita ciduk aparat juga. Menghakimi sebelum menerima. Pantaskah?
Banyak problem kehidupan yang dihadapi negeri bersama Indonesia. Contoh-contoh di atas hanya contoh individu, atau sekelompok kecil masyarakat. Adakah rahasia di negara ini? Rahasia yang tak perlu dikuak, dan hanya perlu dimaafkan. Banyak sekali. Rupa-rupanya kita lebih suka mendendam daripada memaafkan.
Peristiwa 1965, kasus orang hilang, orang dibunuh tanpa sebuah kejelasan, karena dianggap sebagai tokoh kiri, dianggap terlibat PKI. Beberapa masyarakat di sudut negeri, hingga detik ini, masih belum bisa menerima dan masih menyimpan dendam tanpa bisa melakukan apa-apa terhadap kasus tersebut. Aktifis muslim pun, mungkin pula banyak yang menyimpan dendam atas peristiwa pada tahun 1948, penculikan dan pembunuhan kiai dan santri. Kalau dibolak-balik, siapa yang salah, kita tidak akan menemui ujung. Jawaban hanya berupa jawaban seperti lorong tanpa ujung, dengan asumsi saling menyalahkan.
Kemudian ada contoh lain, peristiwa 17 Agustus 1945. Kemerdekaan yang melahirkan bangsa besar yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dimana letak kekisruhan itu. Bukankah sebelumnya telah disepakati, bahwa yang dibacakan pada tanggal tersebut pada pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur No.56 adalah piagam Jakarta? Yang terjadi malah Soekarno dan Hatta membacakan teks proklamasi yang kita kenal sekarang. Banyak pihak yang tidak dipuaskan. Karena kalimat kedua dalam teks proklamasi
"Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Pihak yang tidak puas, mencermati kalimat tersebut memiliki kejanggalan. Kita merdeka, tapi belum mempunyai dasar kenegaraan. Dasar negara akan dibentuk dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bagaimana mungkin, membentuk negara dengan dasar negara yang terkesan dibentuk dengan terburu-buru?
Banyak pertanyaan, banyak ketidakpuasan. Hal itu membuat salah seorang sahabat karib Soekarno melakukan pemberontakan pada tahun 1949 dengan memproklamirkan NII, karena tidak puas dengan Soekarno yang lebih suka berunding dengan Belanda. Kemarahan Kartosoewirjo memuncak setelah Perundingan Renville. Konon, Kartosoewirjo, sudah memiliki dasar negara yang diberi nama Qanun Syariah.
Rahasia banyak sekali menyelimuti bangsa ini. Seharusnya sikap yang diambil adalah memaafkan, dan bahu membahu membangun bangsa yang bernama Indonesia. Yang terbaru bapak Prabowo Subianto, mengkhawatirkan Indonesia akan lenyap pada tahun 2030, berdasarkan novel yang berjudul Ghost Fleet. Banyak pihak yang menyerang beliau, namun banyak pihak yang juga membentengi pernyataan beliau.
Selama kita saling menyerang, kita akan senantiasa terkungkung dalam perseteruan tanpa ujung. Sekeping rahasia, masa lalu, hendaklah dimaafkan. Pernyataan tokoh politik kita, hendaknya disikapi pula dengan bijak. Waspada, berhati-hati, dan tetap menjunjung tinggi kebhinekaan bangsa. Maukah kita bangsa ini terpecah kembali seperti zaman Belanda? Atau peperangan antara TNI dan TII? Sukakah kita melihat bangsa kita saling bermusuhan?
Dukungan juga diperlukan untuk Presiden kita, namun andaikan beliau luput menjalankan tugasnya, hendaknya kritik dan saran disampaikan dengan cara sopan dan etika yang baik. Bukankah bangsa yang bernama Indonesia, menjunjung tinggi etika dan tata krama?

Comments

Popular posts from this blog

Pramoedya, Tan Malaka, Sastra, dan Blogger Pemula

Hari sabtu 24 Februari sungguh hari yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Aku harus mengalah tidak berjualan demi mengikuti pelatihan pertama Forum Lingkar Pena cabang Ciputat. Seminggu sebelumnya, aku tidak datang. Jadi pada tanggal 24, aku memaksakan langkah kakiku ke Aula Insan Cita HMI Ciputat dimana FLP (singkatan Forum Lingkar Pena) mengadakan pelatihan.  Aku hanya lulusan SMK Jurusan Otomotif pada tahun 2008 silam. Kalau aku tak belajar seperti mereka-mereka yang kuliah, bagaimana mungkin aku bisa berkembang sebagai manusia, juga dalam peradaban. Apalagi untuk seorang pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Setiap hari, hati tidak pernah diliputi ketenangan, karena takut kalau sewaktu-waktu gerobak daganganku digaruk sama bapak-bapak dari satpol pp. Kalau sudah dibawa bagaimana aku akan menghidupi diriku? Bagaimana aku bisa membeli buku-buku untuk mata pelajaranku? Mata pelajaranku tentu berbeda dengan mereka yang duduk di bangku akademik. Pelajaranku adalah ...

Berlaku Adil Sejak Dalam Pikiran

Tidak dipungkiri, setiap kali bertemu seseorang, pertama kali yang kita lihat dari orang tersebut adalah baju apa yang dia pakai, perhiasannya, dan segala sesuatu yang membungkus tubuhnya. Kita mengesampingkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Padahal bisa jadi, mereka dengan pakaian sederhana, dan tampak lusuh dari luar, memiliki kekayaan ilmu yang luar biasa. Namun itulah manusia, sibuk mendandani fisik, dan lupa membenahi apa yang ada dalam pikiran dan jiwanya.  Sekali waktu saya pernah mengikuti demo kenaikan upah buruh pada tahun 2014 di Bundaran HI. Menurut Serikat Pekerja kami, upah buruh masih belum layak, dengan biaya hidup di kota metropolitan yang sangat tinggi. Yang saya kesal dari peristiwa itu bukan apa-apa, melainkan hanya sebuah peristiwa sepele, namun hal itu masih melekat kuat dalam ingatan saya. Salah satu sahabat saya yang juga mengikuti demo tersebut, kebelet ingin buang air kecil. Saya pun mengantarnya kemana-mana ke toilet terdekat. Namun apa yang ...

Gerakan Islam untuk Kejayaan Bangsa

“Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq ”. Hadis ini pasti tidak asing dan sering kita dengar. Sebagian besar dari kita (termasuk saya sendiri), mungkin terdengar biasa saja. Mungkin pula kalau ada kajian di masjid membahas tentang hal tersebut, saat kita pernah mendengarnya secara tidak sengaja, entah sedang mengerjakan tugas (kuliah, rumah, atau pekerjaan kantor yang belum selesai), bermain gawai, atau hanya sedang melamun, dan tiba-tiba kita mendengar hadis itu dalam kajian akhlaq. Kita mendengarkannya sambil lalu. Tidak meresapi sampai ke dalam sanubari.   Jangan tanyakan kepada saya itu hadis riwayat siapa, sahih atau tidak, karena saya sangat jauh kompetensinya dari hal tersebut. Lebih baik bertanya kepada yang menguasai bidang tersebut. Bukan hadisnya yang hendak saya permasalahkan di sini, tapi saya mempermasalahkan sikap sebagian orang yang banyak sekali mengacuhkan nasehat baik. Sudah lama islam mengalami banyak sekali kemunduran da...