Skip to main content

Slogan, Politik, dan Realitas Masyarakat


Sehat, Senyum, Sabar, Semangat.

Slogan tersebut terpasang dengan jelas dengan warna oranye di gerobak tempat saya berjualan. Saya tidak bisa mengklaim diri saya melakukan slogan tersebut atau tidak. Yang menilai adalah pelanggan dan para pembeli saya. Kalau saya mengatakan saya melakukannya, mungkin saja saya menjadi orang munafik yang sok-sokan berlaku bijak. Kalaupun saya mengatakan tidak, maka para pelanggan saya akan lari kepada jajanan makanan yang lain, karena selain kualitas masakan yang kita jual, sikap kita terhadap mereka akan mempengaruhi penjualan. Senyum pada slogan kedua, jika kita bisa mengaplikasikannya dalam sehari-hari, sama artinya dengan kita membagi energi positif kepada orang lain. Bisa jadi dia sedang dirundung masalah hati, akan luruh kesedihannya karena kita memberikan senyum yang tulus kepadanya. Apalagi seandainya kita mampu melakukan keempat slogan tersebut.

Membaca untuk mengenal dunia, maka menulis adalah untuk dikenal dunia.

Rasanya tidak asing bukan? Seberapa sering kita melihat hal-hal yang seperti di atas? Pasti sering. Yang saya maksud di sini adalah slogan. Seberapa sering kita melihat slogan, indah untuk dikoarkan namun sangat sulit dan berat ketika hendak melakukan? Semua orang sibuk berkata-kata, sehingga banyak yang lupa apa yang seharusnya ia lakukan. Banyak pembaca yang ingin menjadi seorang penulis, namun tak segera menulis, juga tak sedikit seorang yang ingin menjadi penulis namun memiliki keengganan ketika membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang saling bertaut, dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Bagaimana kita menjadi seorang penulis ulung kalau kita hanya duduk diam tanpa membaca karya-karya para penulis hebat. Mungkin saya adalah orang kesekian yang menulis hal yang sama. Yang saya tekankan di sini adalah, manusia suka berindah-indah dalam slogan, namun sangat minim dalam tindakan nyata terhadap slogan-slogan yang mereka buat.

Jangan buang sampah di sini! Buang sampah di sini hukumannya mati! Hanya orang gila yang buang sampah di sini!

Jangan mengira slogan-slogan tersebut akan membuat jera para pelaku kejahatan dalam skala kecil. Sang pelaku akan melirik sana-sini sebelum ia melakukan pelanggaran yang biasa ia lakukan. Tetap saja, ia yang belum tersadarkan secara perilaku, akan terus melakukan pelanggaran yang sama. Kecuali tempat dipasangnya slogan pelanggaran tersebut dijaga dengan ketat. Mungkin orang yang akan melakukan pelanggaran baru akan segan.

Ada yang salah dalam pendidikan kita. Sehingga hal-hal yang salah seolah sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Pelanggaran-pelanggaran kecil seolah sudah menjadi kebiasaan yang wajar. Kita membiarkannya, mendiamkannya, sehingga kebiasaan biasa menjadi adat, atau bisa pula menjadi rutinitas atau budaya. Kalau sudah menjadi budaya, sudah sangat sulit untuk menghentikan hal tersebut dalam diri seseorang. Budaya yang baik akan sangat membangun, namun budaya yang buruk, akan melemahkan dan merendahkan martabat suatu bangsa.

Slogan-slogan juga dipakai oleh para politisi untuk mengambil hati rakyat. Namun berapa banyak mereka yang berslogan membela rakyat, yang katanya abdine wong cilik, bahkan banyak yang mengatakan akan menyejahterakan kehidupan berbangsa dan bernegara, justru malah melakukan hal yang sebaliknya ketika dia menjadi wakil rakyat. Menelantarkan bangsa dan rakyatnya sendiri, yang katanya akan dibela sampai titik darah penghabisan ketika terpilih. Kembali lagi, slogan mampu menyentuh hati nurani, namun slogan hanya tetap slogan yang indah tanpa ada tindakan nyata dari kita.
Benar apa yang dikatakan oleh Eka Kurniawan dalam salah satu cerpennya yang berjudul “Corat-Coret di Toilet”.
“Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet”.
Slogan, politik, dan realitas masyarakat adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Slogan bisa berkata tidak, namun perbuatan bisa jadi sebaliknya.


Comments

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Lalu

Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK. Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai...

Perjalanan Kecil

Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri , dan orang tua . Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh. Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif. Selama lima tahun saya putus hubungan de...

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu