Skip to main content

Sepenggal Kisah Lalu


Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK.
Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai punggung badanku. Hanya karena hal sepele. Aku terlalu asik main, sehingga lupa kalau sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Waktu bagiku untuk menggembala kambing. Awalnya ibu hanya menegurku untuk segera menggembalakan kambing-kambingku. Menyuruhku untuk berhenti bermain kelereng, dan segera melakukan apa yang ibu suruh. Aku mengatakan sedang tanggung, sebentar lagi. Ibu datang kepadaku dengan langkah cepat, mengacak-acak kelereng yang sudah kami tata rapi. Aku setengah berlari menghindar, tapi setelah ibu pergi agak menjauh, kami menata kembali. Aku sangka ibu sudah melangkahkan kaki lebih jauh, ternyata ibu masih mengamatiku. Ibu mengambil sebongkah batu sambil mengancam, jika aku tidak segera berhenti bermain, ibu akan melemparkan batu itu kepadaku. Aku mengira ibu hanya menggertakku saja. Aku tetap sibuk dengan kelereng-kelerengku. Ibu benar-benar marah, dan benar-benar melemparkan sebongkah batu itu ke arahku. Batu itu mengenai punggungku. Sakit. Temanku langsung berlari karena ketakutan. Mungkin juga takut akan kena imbas kemarahan ibuku. Aku menangis. Meraung. Kemudian ibu meninggalkanku begitu saja, dan beliaulah yang akhirnya menggembalakan kambing. Aku dibiarkan menangis dan menahan kesakitan seorang diri. Sepenggal kisah masa kecil bersama ibu.
Salah seorang temanku di dalam kelas (waktu SMP) dilempar penghapus oleh ibu guru kami. Aku masih ingat mata pelajaran PPKn ( sebelum diganti dengan PKn dan Sejarah ) waktu itu. Kami mengira kami semua sedang kelas kosong. Kelas kami ramai dan sangat berisik. Tanpa diduga ibu guru yang mengajar kelas kami di jam itu masuk. Pintu awalnya kami tutup. Ketika dibuka kami langsung diam seketika. Namun ada salah satu dari kami yang tak menyadari kedatangan ibu guru di kelas itu. ia malah sedang asik mengamati keadaan di luar kelas dengan naik di atas meja. Hal yang tak patut sebenarnya, apabila dilakukan oleh seorang pelajar. Ibu guru kami marah, dan langsung melempar penghapus ke arah temanku itu. Tepat mengenai kepalanya. Aku tak tahu apakah lemparan itu sebuah kebetulan bisa mengenai kepalanya, ataukah ibu guru memang seorang pelempar penghapus yang jitu? Sepenggal kisah di sekolah.
Aku dibiarkan tidur di luar. Beberapa kali pun aku mengetuk pintu, pintu tetap tidak ada yang membuka. Dingin menyerang. Sejenak, aku turun ke halaman rumah. Bintang dan bulan bertengger di atas sana dengan indahnya. Berkerlap-kerlip. Aku menunggu beberapa saat, kemudian kembali mengetuk pintu rumah. Masih tak ada seorangpun yang membukakan pintu. Akhirnya aku tidur di luar bersama hawa dingin yang menusuk. Paginya, ketika azan subuh berkumandang, pintu rumah terbuka. Aku langsung bangun. Aku menggigil, perutku terasa mual, aku masuk angin. Ibuku langsung nyeletuk, hukuman bagiku kalau terlambat pulang, adalah tidak dibukakan pintu, aku dibiarkan tidur di luar di atas balai bambu di depan teras.
Sekelumit kisah di atas, adalah kisah sedikit kekerasan dalam bentuk fisik, dan hukuman secara moral bagi kehidupan saya di masa lalu. Saya membayangkan seandainya generasi sekarang diperlakukan demikian, akankah mereka mampu bertahan? Saya pikir pergaulan sekarang, dan dengan hukuman yang seperti dulu, dengan kekerasan, malah akan membentuk kepribadian anak semakin liar. Sayangnya, di kampung halaman saya, masih banyak orang tua yang masih memperlakukan hukuman fisik terhadap anak-anak mereka yang melakukan kesalahan. Zaman berkembang dan sudah berubah. Apalagi hubungan mereka dengan teman-teman yang mungkin sepemikiran lebih mudah dengan adanya gawai, ponsel, dan sosial media. Mereka akan melawan dengan dalih pencarian jati diri ataupun identitas.
Kekerasan di masa kecil akan terbawa hingga dewasa. Masuk ke alam bawah sadar, terkadang membentuk kebencian yang sulit diungkapkan, kadang membentuk ketakutan atau pobia terhadap hal-hal tertentu. Anak memang jangan sampai dibiarkan bebas, namun mereka jangan pula dikekang dengan kekerasan tak perlu yang terkesan berlebihan.

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Kecil

Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri , dan orang tua . Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh. Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif. Selama lima tahun saya putus hubungan de...

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu