Skip to main content

Organisasi dan Kemanusiaan


Organisasi di Indonesia banyak sekali macamnya. Organisasi politik, masyarakat, kemahasiswaan, dan lain-lain. Sering diri ini menganggap bahwa sahabat-sahabat kita yang satu organisasi seperti anggota keluarga sendiri. Sekilas hal tersebut terdengar sangat manis. Namun, jika kita mau mengupas secara mendalam, akan banyak kesakitan-kesakitan yang tak perlu.

Banyak sekali hal yang melandasi organisasi. Ada yang berasaskan persaudaraan, persahabatan, pancasila, dan asas-asas lain.

Sampai usia saya yang sekarang, tak banyak organisasi yang saya ikuti. Paling-paling yang bisa diceritakan hanya sedikit sekali. Saya akan membongkar kembali masa lalu saya, seperti tulisan saya yang sudah-sudah. Kali ini tentang organisasi.

Waktu SD saya pernah dimarahi habis-habisan oleh ibu saya karena tidak masuk menjadi dokter kecil. Saya tidak tahu dimana kesalahan saya. Ibu saya bertanya kepada saya, kenapa saya tidak terpilih menjadi dokter kecil? Saya hanya mampu menjawabnya dengan diam tanpa kata-kata. Bapak ibu guru yang memilih siapa-siapa saja yang pantas menjadi dokter kecil (menurut versi bapak ibu guru tentunya). Mereka yang dipilih sebagai dokter kecil akan menjadi petugas UKS. Ibu saya menganggap saya sebagai seseorang yang jorok, padahal dalam penilaian saya pribadi di masa itu, ada yang lebih jorok daripada saya, dan dia terpilih sebagai dokter kecil. Apakah salah, jika seorang anak SD tidak terpilih menjadi dokter kecil? Lantas pantaskah ia dimarahi atas hal yang dia sendiri tak bisa menentukan?

Waktu SMP dan SMK saya aktif di Pramuka. Saya mencintai berjalan-jalan, berkomunikasi dengan sahabat-sahabat, menyelesaikan masalah bersama, namun ada satu hal yang membuat saya kecewa atas kepramukaan. Senior-senior saya yang membuat saya berhenti mengikuti Pramuka. Dia selalu menekankan kepada kami (bahkan terkesan sangat memaksa) masalah kerapian dan kedisipilinan. Mereka selalu menyuruh kami berpakaian lengkap (termasuk kabaret dan hash duk), baju dimasukkan, kaos kaki dan sepatu berwarna hitam. Yang saya kecewa bukan karena perintah itu. Tapi mereka, kakak-kakak senior kami seenaknya sendiri dalam memakai atribut, dan banyak dari mereka datang terlambat di setiap acara kepramukaan. Saya menggeram dalam hati. Harusnya kalau mereka ingin dihormati sebagai kakak senior, mereka harus bisa memberi contoh yang baik. Melakukan hal yang juga diperintahkan kepada kami. Semua orang suka menyuruh-nyuruh, tapi mereka sendiri enggan melakukan kedisiplinan yang mereka paksakan kepada adik-adik mereka. Sekolah adalah refleksi kecil dari sebuah masyarakat dalam suatu negara yang besar. Kalau dalam skala sekolah saja sudah seperti itu, bagaimana nanti kalau kakak-kakak itu menjadi anggota dewan rakyat. Dalam kepramukaan saja seperti itu, mereka bisa lebih semena-mena terhadap rakyatnya.

OSIS. Di SMK saya tak terlalu aktif di OSIS. Mungkin karena terlalu banyak ekskul yang saya ikuti. Saya ingin menceritakan tentang pengalaman OSIS saya ketika saya duduk di bangku SMP. Waktu kelas tiga saya dicalonkan (dicalonkan lho ya bukan mencalonkan) menjadi ketua OSIS. Lawan saya ada dua, yang masing-masing memiliki calon wakil masing-masing. Kami sebagai calon ketua dan wakil ketua, diminta bapak pembina OSIS untuk mengadakan pemungutan suara. Kami disuruh untuk menyampaikan visi misi kami seandainya kami terpilih menjadi ketua OSIS. Saya yang sejujurnya tidak kompeten di bidang kepemimpinan tergagap-gagap. Saya tak pandai mengambil hati orang. Dipastikan saya kalah suara. Karena saya tidak meyakinkan ketika saya menyampaikan visi misi. Saya dicalonkan karena prestasi akademik saya di kelas cukup bagus. Saya hanya ingin menyampaikan, hendaknya seseorang ketika hendak dicalonkan menjadi pemimpin kelompok, jangan hanya melihat salah satu prestasinya saja. Sikapnya, ketegasannya, dan banyak hal lain yang harus diperhatikan.

Salah satu organisasi lain yang saya ikuti adalah organisasi pencak silat yang berlandaskan persaudaraan. Di sini saya mengalami banyak hal yang tidak enak, meskipun banyak hal yang baik dan manis yang saya dapatkan. Kami yang satu organisasi, dianggap sudah seperti saudara kandung sendiri. Pahit manis ditanggung bersama, dan apabila ada kesusahan ditanggung bersama. Itu yang selalu diajarkan oleh kakak-kakak pelatih kami. Sekilas, hal ini tampak indah dan bagus. Namun jika kita mau mengurai kebih jauh, banyak hal pahit di dalamnya. Hal ini dialami oleh banyak anggota persaudaraan ini mungkin. Atas nama persaudaraan, mereka meminjam uang, karena katanya kepepet, tidak tahu harus pinjam kepada siapa lagi. Dengan mulut manisnya mereka berusaha mengambil hati kita, dan berjanji akan membayarnya dalam tempo waktu tertentu. Sahabat pasti sudah menduga, ketika waktu yang dijanjikan sudah tiba, mereka seperti memiliki ilmu halimun. Tak datang saat latihan, dihubungi nomornya tidak aktif, didatangi ke rumahnya tidak tampak batang hidungnya, ketika berpapasan pura-pura tidak lihat, dan ketika benar-benar bertemu pura-pura lupa. Ketika diingatkan mereka lebih galak daripada dia yang memberikan hutang. Sekali lagi atas nama persaudaraan mereka menyalahgunakan kata itu untuk hal-hal yang tidak pantas.

Sebuah organisasi akan maju jika berada di tangan-tangan yang tepat. Salah satu organisasi yang patut dijadikan contoh adalah Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Jangan dulu melihat afiliasi mereka dengan PKI. Tapi lihat bagaimana mereka menghargai seniman-seniman dari pelosok terpencil. Banyak sekali seniman yang dihargai oleh Lekra, padahal namanya belum pernah didengar di kancah kesenian. Bukan organisasinya yang buruk, akan tetapi, mereka yang menjadi anggota organisasi itu yang membuat buruk nama dari suatu organisasi.

Comments

Popular posts from this blog

Pramoedya, Tan Malaka, Sastra, dan Blogger Pemula

Hari sabtu 24 Februari sungguh hari yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Aku harus mengalah tidak berjualan demi mengikuti pelatihan pertama Forum Lingkar Pena cabang Ciputat. Seminggu sebelumnya, aku tidak datang. Jadi pada tanggal 24, aku memaksakan langkah kakiku ke Aula Insan Cita HMI Ciputat dimana FLP (singkatan Forum Lingkar Pena) mengadakan pelatihan.  Aku hanya lulusan SMK Jurusan Otomotif pada tahun 2008 silam. Kalau aku tak belajar seperti mereka-mereka yang kuliah, bagaimana mungkin aku bisa berkembang sebagai manusia, juga dalam peradaban. Apalagi untuk seorang pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Setiap hari, hati tidak pernah diliputi ketenangan, karena takut kalau sewaktu-waktu gerobak daganganku digaruk sama bapak-bapak dari satpol pp. Kalau sudah dibawa bagaimana aku akan menghidupi diriku? Bagaimana aku bisa membeli buku-buku untuk mata pelajaranku? Mata pelajaranku tentu berbeda dengan mereka yang duduk di bangku akademik. Pelajaranku adalah ...

Berlaku Adil Sejak Dalam Pikiran

Tidak dipungkiri, setiap kali bertemu seseorang, pertama kali yang kita lihat dari orang tersebut adalah baju apa yang dia pakai, perhiasannya, dan segala sesuatu yang membungkus tubuhnya. Kita mengesampingkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Padahal bisa jadi, mereka dengan pakaian sederhana, dan tampak lusuh dari luar, memiliki kekayaan ilmu yang luar biasa. Namun itulah manusia, sibuk mendandani fisik, dan lupa membenahi apa yang ada dalam pikiran dan jiwanya.  Sekali waktu saya pernah mengikuti demo kenaikan upah buruh pada tahun 2014 di Bundaran HI. Menurut Serikat Pekerja kami, upah buruh masih belum layak, dengan biaya hidup di kota metropolitan yang sangat tinggi. Yang saya kesal dari peristiwa itu bukan apa-apa, melainkan hanya sebuah peristiwa sepele, namun hal itu masih melekat kuat dalam ingatan saya. Salah satu sahabat saya yang juga mengikuti demo tersebut, kebelet ingin buang air kecil. Saya pun mengantarnya kemana-mana ke toilet terdekat. Namun apa yang ...

Gerakan Islam untuk Kejayaan Bangsa

“Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq ”. Hadis ini pasti tidak asing dan sering kita dengar. Sebagian besar dari kita (termasuk saya sendiri), mungkin terdengar biasa saja. Mungkin pula kalau ada kajian di masjid membahas tentang hal tersebut, saat kita pernah mendengarnya secara tidak sengaja, entah sedang mengerjakan tugas (kuliah, rumah, atau pekerjaan kantor yang belum selesai), bermain gawai, atau hanya sedang melamun, dan tiba-tiba kita mendengar hadis itu dalam kajian akhlaq. Kita mendengarkannya sambil lalu. Tidak meresapi sampai ke dalam sanubari.   Jangan tanyakan kepada saya itu hadis riwayat siapa, sahih atau tidak, karena saya sangat jauh kompetensinya dari hal tersebut. Lebih baik bertanya kepada yang menguasai bidang tersebut. Bukan hadisnya yang hendak saya permasalahkan di sini, tapi saya mempermasalahkan sikap sebagian orang yang banyak sekali mengacuhkan nasehat baik. Sudah lama islam mengalami banyak sekali kemunduran da...