Skip to main content

Perjalanan Kecil


Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri, dan orang tua. Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh.
Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif.
Selama lima tahun saya putus hubungan dengan segala sesuatu yang berbau literasi. Tak ada naskah yang saya tulis, tak ada buku yang saya baca. Saya dibuat patah hati, oleh tiga penolakan pertama. Belum lagi ditambah, saya yang mendengar nama forum lingkar pena, yang juga tidak ada tanggapan setelah saya mendaftar online. Saya merasa, mungkin Tuhan sudah memendam jalan saya untuk menjadi penulis, atau mungkin memang, Tuhan tidak berkenan terhadap cita-cita saya.
Akan tetapi setahun belakangan, saya bertemu dengan salah satu Rumah Pustaka Forum Lingkar Pena secara tidak sengaja. Antara percaya dan tidak percaya, saya mengetuk pintu mereka. Mereka mempersilakan, dan kami berkenalan singkat. Saya trauma dengan perkenalan singkat di masa lalu dengan FLP. Mereka tak menanggapi pertanyaan saya lewat email saat mendaftar. Tetapi, di rumpus FLP Ciputat mereka menyambut dengan senyum yang ramah. Terjadi diskusi singkat, dan perlahan impian saya yang sempat saya kubur, menyeruak kembali. Bertemu mereka, saya kembali ingin menjadi penulis.
Dari mereka lah saya bertemu dengan buku-buku Pramoedya, Eka Kurniawan, Ayu Utami, (nama-nama yang jarang saya dengar di dunia literasi). Beberapa dari mereka merekomendasikan buku-buku yang pantas menembus pasar internasional. Saya melahap buku-buku yang mereka rekomendasikan, saya larut di sana, dan mulailah keinginan saya untuk menulis.
Saya mendengar kabar UNNES mengadakan sayembara novel tingkat internasional, dengan tema “Eksplorasi nilai-nilai local untuk nilai-nilai solidaritas kemanusiaan”. Salah satu dewan jurinya adalah Seno Gumira Ajidarma. Selama empat bulan, sepulang keja, saya mengetik. Sudah ada bayangan apa yang harus saya tulis, tinggal bagaimana saya menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Mendekati masa deadline, saya langsung mengirimkan lewat email, dibubuhi dengan surat keterangan bebas plagiat, dan fotokopi KTP. Berbulan-bulan saya menunggu, dan pengumuman diadakan lewat web. Sudah ditebak, naskah saya kalah. Kembali saya down, namun bedanya, saya sudah memiliki sahabat-sahabat dari FLP yang memberikan semangat, bukan malah menjatuhkan.
Saya ingin menulis novel yang dibaca banyak orang, namun salah satu senior di FLP memberikan nasehat
“Cobalah nulis cerpen dulu Mas, kalau sudah bisa nulis cerpen, baru coba nulis novel”.
Awalnya saya tak menerima, karena menurut saya, penulisan cerpen lebih rumit, ketimbang menulis novel. Tapi dia meminta saya untuk mencoba.
Saya pun mencoba merangkai kata demi kata-kata menulis beberapa cerpen. Di saat salah satu senior FLP senggang, saya iseng-iseng meminta dia mengoreksi. Saya ingin menangis rasanya, tulisan-tulisan saya sangat kacau. Penggunaan EYD banyak yang tidak tepat, dari segi cerita, mirip-mirip yang ada di pasaran, dan banyak kekurangan-kekurangan lain dalam tulisan saya. Saya pulang dengan hati yang menangis, menyadari bahwa tulisan saya sangat buruk.
Seperti hidup, setiap tulisan memiliki sejarahnya sendiri-sendiri, meskipun dia bukanlah seorang penulis. Kemudian saya ingat, nasehat-nasehat dari para penulis senior. Para penulis 85 persen pekerjaannya adalah membaca. Niat saya tidak boleh tertunda lagi. Kalau saya menyerah waktu itu, mungkin selamanya saya tidak akan pernah bisa menjadi penulis.
Bacaan adalah asupan gizi untuk tulisan-tulisan. Bacaan berat akan menghasilkan tulisan-tulisan yang cukup berat, Buku bacaan teenlit, maka tulisan tak akan jauh dari problem dan dinamika seorang remaja. Saya berburu buku-buku cerpen terbaik, baik yang diterbitkan kompas dan gramedia. Dengan membaca cerpen-cerpen terbaik, maka saya berharap, nama saya suatu saat akan berjajar dengan para penulis cerpen terbaik.
Tuhan kemudian memberikan jalan yang terbuka lebar buat saya. Saya bertemu dengan Eka Kurniawan di acara Tempo Media Week, membahas tentang bagaimana proses kreatif Eka Kurniawan dalam menulis. Bertemu beliau semakin meninggikan impian saya untuk menjadi seorang penulis.
Selesai acara itu, saya mencari berbagai lomba cerpen, dan mencoba mengirimkan cerpen-cerpen saya ke media masa. Namun hanya satu yang masuk dalam 20 besar, yaitu yang diadakan oleh Festival Sastra UNPAM. Tulisan saya yang berhasil menembus media online, dimuat di puan.co dan takanta,id
Perjuangan berlum berakhir. Setiap hari adalah proses belajar, setiap hari saya selalu berusaha mencari ide-ide segar dalam tulisan-tulisan saya, dan saya senantiasa berusaha untuk memperbaiki gaya penulisan saya.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Lalu

Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK. Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai...

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu