Skip to main content

Gerakan Islam untuk Kejayaan Bangsa


“Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq”.

Hadis ini pasti tidak asing dan sering kita dengar. Sebagian besar dari kita (termasuk saya sendiri), mungkin terdengar biasa saja. Mungkin pula kalau ada kajian di masjid membahas tentang hal tersebut, saat kita pernah mendengarnya secara tidak sengaja, entah sedang mengerjakan tugas (kuliah, rumah, atau pekerjaan kantor yang belum selesai), bermain gawai, atau hanya sedang melamun, dan tiba-tiba kita mendengar hadis itu dalam kajian akhlaq. Kita mendengarkannya sambil lalu. Tidak meresapi sampai ke dalam sanubari.  

Jangan tanyakan kepada saya itu hadis riwayat siapa, sahih atau tidak, karena saya sangat jauh kompetensinya dari hal tersebut. Lebih baik bertanya kepada yang menguasai bidang tersebut. Bukan hadisnya yang hendak saya permasalahkan di sini, tapi saya mempermasalahkan sikap sebagian orang yang banyak sekali mengacuhkan nasehat baik.

Sudah lama islam mengalami banyak sekali kemunduran dalam berbagai bidang, dan saat ini sedang marak-maraknya gerakan yang mengatasnamakan gerakan kebangkitan islam. Kedengarannya luar biasa, tapi perlu digarisbawahi, meski tak bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang kecil.

Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman saya berkenalan dengan mereka yang bergiat dalam urusan dakwah. Saya ingin menceritakan beberapa bentuk dan sifat manusia yang saya jumpai.

Pertama saya ingin menceritakan tentang seseorang yang menganggap dakwah, kajian, di atas segalanya. Saya pernah menemui orang seperti ini. Ia meninggalkan pekerjaan (yang sebenarnya pekerjaannya tidak bisa digantikan oleh orang lain) demi mengikuti kajian yang dilakukan di masjid perusahaan. Sebenarnya kajian itu diperuntukkan bagi mereka yang masuk shift dua. Tapi, orang tersebut meninggalkan pekerjaan demi mengikuti kajian. Memang jam kerja masih setengah jam lagi, tapi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Dia meninggalkan  pekerjaannya begitu saja, dan dengan wajah tanpa bersalah, ia meninggalkan pekerjaan demi kajian tersebut. Saya tidak tahu bagaimana islam menghukumi orang seperti ini, yang jelas dia telah meninggalkan pekerjaan sebelum waktunya, dan membebankan pekerjaan kepada orang lain yang sebenarnya bukan kompetensinya.

Pengalaman saya yang lain, saya pernah memiliki rekan kerja yang dalam hal ibadah, dakwah, dan lain-lain, memiliki semangat yang sangat tipis. Ia sering melewatkan waktu ibadah, karena pekerjaan yang katanya sedang nanggung, tinggal sedikit lagi. Namun sampai pekerjaan itu selesai, dia melewatkan waktu ibadah. Saya pun tak berani menghakimi sikapnya. Setiap orang punya prinsip dan pendapat masing-masing. Sering kita menganggap diri sebagai manusia paling suci, paling benar, paling beradab, dan menganggap mereka yang meninggalkan waktu-waktu ibadah sebagai orang yang sengsara di akhirat nanti. Kita tidak tahu perjalanan hidup mereka bukan? Siapa tahu suatu saat Allah akan membalikkan hatinya, sehingga ia menjadi seorang pemuka agama yang sangat disegani dalam lingkungan masyarakat. Bukankah itu suatu hal yang mungkin saja terjadi?

Yang ketiga, ini adalah cerita tentang sahabat dekat saya di masa lalu. Memiliki etos kerja yang sangat tinggi, memiliki jiwa pemimpin, tapi semangat mengajinya luar biasa. Sudah lama saya tak berkomunikasi dengannya, setahu saya saat ini dia sedang memperjuangkan diri untuk berdakwah di daerah pedalaman. Dia mampu menempatkan waktu secara adil. Kalaupun ada kajian, tapi dia masih sedang dalam pekerjaan, dia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu, meskipun dalam kajian nanti dia terlambat. Dia memilih terlambat demi menunaikan tanggungjawabnya. Di akhir pertemuan kajian, dia bertanya kepada salah satu dari kami yang mengikuti kajian dari awal, tentang apa kajian yang dia lewatkan.

Akhlak dalam bahasa yang mudah dimengerti, adalah budi pekerti atau tingkah laku. Mereka yang ingin islam kembali sebagaimana masa silamnya yang gemilang, selalu harus dimulai dengan pribadi-pribadinya. Buat apa memperjuangkan khilafah, memperjuangkan tegaknya syariat islam secara kaffah (menurut beberapa golongan), tapi mengabaikan perilaku dirinya di dalam masyarakat. Kalau dia acuh terhadap sekitarnya, maka dia pun akan diacuhkan. Kalau sudah ada sensi yang mengendap di hati, apa saja yang kita koarkan kepada mereka, meskipun ada kebaikan di dalamnya, kita akan tetap diacuhkan. Karena benci sudah terlanjur menjantung hati.

Ketiga cerita di atas adalah sebuah contoh kecil yang benar-benar pernah saya temui di dalam kehidupan saya. Refleksi kecil di dalam sebuah masyarakat yang besar.

Saya pun ingat hari ini adalah tanggal 3 Maret. Hari yang saya pun sulit untuk melupakan. Hari ini sebuah peringatan besar, dimana islam terjun meluncur bebas kehilangan pemimpin.

3 Maret 1924, kekhalifahan Utsmani jatuh. Kesultanan Ottoman tak mampu lagi berbuat banyak, terhadap pendirian Republik Turki oleh Mustafa Kemal Pasha Attaturk. Sejak saat itu, sampai saat ini, umat islam tidak memiliki pemimpin yang menyatukan seluruh umatnya. Mereka hanya digerakkan oleh pemimpin-pemimpin harakah (gerakan) masing-masing. Sayangnya mereka tak mau bersatu padu membentuk satu kesatuan. Setiap kelompok menganggap bahwa kelompoknyalah yang paling benar. Kalau hal seperti ini diteruskan, jangan harap, kejayaan islam di masa silam akan terulang kembali.

Semua kejayaan itu tak akan dicapai tanpa dimulai dengan pribadi-pribadi yang santun, budi pekerti yang baik, atau dalam bahasa islamnya akhlaqul karimah. Buat apa berilmu tinggi tapi tak memilik tatakrama dalam masyarakat. Nabi Muhammad adalah contoh nyata bagi pejuang-pejuang islam dimanapun. Beliau mampu menundukkan masyarakat Makkah dan Madinah ketika itu karena budi pekerti beliau yang luhur.

Hanya dengan cara yang santun, yang baik, lemah lembut, islam akan diterima kembali sebagai ajaran yang tak hanya mengatur ibadah ritual. Jika masyarakat sudah mencintai yang menyampaikan, apa yang disampaikan pun akan lebih mudah diterima masyarakat. Bukankah Sunan Kalijaga juga melakukan hal yang sama dengan dakwahnya? Menggunakan wayang dan tembang sebagai media dakwah. Langsung mengkafirkkan atau membid'ahkan hanya akan menumbuhkan benci yang semakin mendalam terhadap ajaran-ajaran islam. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sepenggal Kisah Lalu

Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK. Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai...

Perjalanan Kecil

Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri , dan orang tua . Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh. Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif. Selama lima tahun saya putus hubungan de...

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu