Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Industri dan Kemanusiaan

Sekilas mendengar kata industri, adalah sebuah kata yang maju, membangun, keren, dan memesona. Di balik itu, ada sebuah kekejaman tersirat dari sebuah perindustrian. Tenaga yang diperah untuk kepentingan para kapital, tentu dengan upah yang disepakati oleh serikat pekerja dan petinggi perusahaan. Karena industri melibatkan tenaga manusia. Waktu adalah hal yang sangat penting bagi industri produksi. Waktu bekerja dan istirahat diatur sedemikian rupa. Istirahat melewati batas tentu akan terkena teguran. Bagi perusahaan yang memberlakukan tiga shift, pagi, siang, dan malam, tentu mereka tak ingin waktu sedetikpun terbuang sia-sia. Setiap shift memiliki target yang harus dicapai selama delapan jam kerja. Perusahaan produksi biasanya memiliki satu unit kelompok yang memroduksi produk tertentu. Anggaplah shift satu disebut kelompok A, shift dua kelompok B, dan shift tiga kelompok C. Setiap kelompok, dipimpin oleh seorang mandor. Akan menjadi sebuah pertanyaan besar, bagi petinggi perus...

Sekeping Rahasia

Setiap orang memiliki rahasia. Menurut saya, setiap orang memiliki sekeping rahasia yang tidak akan pernah diceritakan kepada orang terdekat sekali pun. Bahkan kepada pasangan hidup, anak-anak, atau kedua orang tua mereka. Sekeping rahasia yang dibiarkan mengendap, menjadi kristal-kristal bening yang mengabadi, dan mungkin hanya akan terkuak setelah manusia mengalami kematian. Setelah manusia menghadapi persidangan terakhir, sebelum ditentukan tempat tinggal yang sesungguhnya. Tak ada manusia yang sempurna. Terdengar klise memang. Semua orang mungkin sudah pernah mengoarkan hal yang sama. Terlalu sering manusia melalu-lalangkan sebuah nasehat baik. Seorang suami saleh, mungkin tidak akan menceritakan pengalaman buruk yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Entah dia adalah seorang begal di jalanan, perampok, maling, atau yang lebih keji, seorang laki-laki yang suka meniduri perempuan cantik. Ketika semua orang tahu, tentang masa lalunya, mungkin ia akan dicaci, dipandang se...

Perjalanan Kecil

Enam tahun lalu naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit mayor. Pengalaman itu sempat membuat semangat saya runtuh. Berhenti menulis selama beberapa tahun. Selain faktor dari diri saya sendiri, faktor lingkungan saya juga tidak terlalu mendukung impian saya untuk menjadi seorang penulis. Mereka mencemooh, menertawakan, bahkan mencaci. Salah seorang dari mereka mengatakan, hidup itu nggak usah muluk-muluk, nggak usah kakehan polah, yang penting cukup untuk membahagiakan anak istri , dan orang tua . Sudah cukup. Kata-kata mereka menambah melenyapkan semangat saya yang sudah meluruh. Setiap penerbit rata-rata memiliki masa tunggu selama tiga bulan untuk menerbitkan naskah seorang penulis. Bahkan, ada yang sampai enam bulan. Selama masa tunggu, saya tak melakukan apapun (dalam arti, saya tidak menulis selama menunggu, dan itu adalah sebuah kesalahan). Seharusnya, saya menulis naskah lain yang mungkin suatu saat, bias diterbitkan. Saya pasif. Selama lima tahun saya putus hubungan de...

Terlambat

Tiang-tiang runtuh Rubuh menerpa tubuh-tubuh berpeluh Kegoncangan meradang garang Berhenti, cukup, kata mereka Kebuasan dimiliki hati yang kalap Kau tahu kenapa rontamu tak didengar? Penyangga yang kau bangun, muasalnya adalah ratapan Rebahmu terlambat Hari sudah terlanjur senja

Satu Ledakan

Satu kata itu cukup meledakkan Membuyarkan impian-impian yang pernah terajut Awan mengelabu Udara yang kuhirup menyesakkan Aku goyah dalam kelinglungan Tak kudapati setitik pun cahaya Langkah gontai berayun Menelusurkan diri pada kegelapan Aku bukan kosong Jiwa dan benakku penuh dengan isi Meski dengan kemuraman bergelayut Ledakannya begitu hebat Seolah memang menghancurkan semua lini hidupku Aku mujur atau hancur Aku masih menghirup udara yang diembuskan-Nya Aku tenggelam Dan aku ingin tenggelam lebih dalam Kadang kubiarkan seseorang menggamit lenganku yang melambai-lambai Kadang aku menurut kepada mereka yang masih menolongku "Kau tak sendiri kawan" kata mereka Aku hanya menjawab dengan diam, teringat kata yang meledakkan itu Katanya sebelum berpisah "Kau jangan di sini lagi, dan jangan pernah mengharapku kembali" kata dia sambil lalu

Sepenggal Kisah Lalu

Kami diliputi rasa ketakutan. Ibu guru yang berada di depan kelas dengan penggaris yang berukuran 30 cm bagaikan nenek sihir yang siap mengutuk atau memukuli kami dengan tongkat sihirnya. Kami berbaris rapi. Beberapa dari kami celingukan ke kanan, ke kiri, dan berusaha menghilangkan wajah yang diliputi kecemasan. Kami takut ketika kami harus menunjukkan jemari kami kepada ibu guru, apalagi kami yang lupa memotong kuku. Banyak dari kami yang terkena pukulan kejam itu. TOK, penggaris menyentuh jemari kami dengan ketukan yang menurut kami sedikit sakit. Besoknya, kalau lupa lagi kami akan dijewer. Tak jarang kami menangis di dalam kelas karena kealpaan yang kami buat sendiri. Di rumah, kami terlalu sibuk bermain, hingga sering lupa dengan pekerjaan rumah yang sering kami anggap sepele. Memotong kuku. Sepenggal kisah waktu TK. Aku tak akan bisa melupakan raut wajah ibu yang sedang dirundung kemarahan. Ia membiarkan diriku merengek kesakitan karena baru saja dilempar batu yang mengenai...

Pramoedya, Politik, dan Pengajaran Sastra di Sekolah

Saya terlambat mengenal buku-buku Pramoedya. Saya menyukai sastra sejak SMP, dan sering mendengar nama Pramoedya baru beberapa tahun belakangan. Namun, membaca buku Pram, saya berjodoh baru setahun lalu. Di sekolah, sastrawan yang sangat tersohor di luar negeri tersebut tidak pernah disebutkan di sekolah. Dalam pelajaran bahasa Indonesia dalam hal puisi tentu Chairil, Sapardi Djoko Damono, W.S Rendra masih menjadi favorit dalam hal pengajaran puisi. Guru-guru saya lebih banyak menjelaskan sastrawan era Balai Pustaka yang dikelompokkan oleh Jassin. Lebih sering kita diberi tugas untuk menelaah tulisan-tulisan Abdoel Moeis, Sutan Takdir Alisyahbana, Marah Roesli dan seangkatannya. Entah kenapa hal itu terjadi. Saya lulus SMP tahun 2005, dan seharusnya (menurut saya pribadi) di kala itu sudah ada pembaruan untuk materi sastra. Saya baru mendengar nama Ayu Utami dan Eka Kurniawan juga baru belakangan ini. Saman terbit tahun 1998, Cantik itu Luka, pertama kali terbit tahun 2002. Khazana...

Organisasi dan Kemanusiaan

Organisasi di Indonesia banyak sekali macamnya. Organisasi politik, masyarakat, kemahasiswaan, dan lain-lain. Sering diri ini menganggap bahwa sahabat-sahabat kita yang satu organisasi seperti anggota keluarga sendiri. Sekilas hal tersebut terdengar sangat manis. Namun, jika kita mau mengupas secara mendalam, akan banyak kesakitan-kesakitan yang tak perlu. Banyak sekali hal yang melandasi organisasi. Ada yang berasaskan persaudaraan, persahabatan, pancasila, dan asas-asas lain. Sampai usia saya yang sekarang, tak banyak organisasi yang saya ikuti. Paling-paling yang bisa diceritakan hanya sedikit sekali. Saya akan membongkar kembali masa lalu saya, seperti tulisan saya yang sudah-sudah. Kali ini tentang organisasi. Waktu SD saya pernah dimarahi habis-habisan oleh ibu saya karena tidak masuk menjadi dokter kecil. Saya tidak tahu dimana kesalahan saya. Ibu saya bertanya kepada saya, kenapa saya tidak terpilih menjadi dokter kecil? Saya hanya mampu menjawabnya dengan diam ta...

Apalah Arti Sebuah Nama

Orang-orang mencemooh atau menertawakan nama yang saya gunakan di dunia maya. Nama alay kata mereka. Bahkan salah seorang sahabat saya berceletuk “Bacaannya Pram kok namanya alay begitu. Ra mbois blas . Seharusnya Mas ini jadi penerus Tere Liye saja. Nggak cocok pengagum Pram memakai nama alay begitu”. Atau celetukan sahabat saya yang lain, “Tulisanmu bagus, menginspirasi, tapi itu loh , nama yang kamu pakai. Aduh-aduh nggak ada keren-kerennya”. Saya hanya tersenyum mendengar celotehan, atau ejekan-ejekan mereka. Saya tak perlu menimpali terlalu banyak. Karena semakin saya menimpali akan terjadi sebuah perdebatan yang panjang. Peredebatan tanpa ujung. Untuk nama akun sosial media, entah Fb, twitter, instagram, path, blog, dan lain-lain, saya menggunakan inisial nama yang sama. Dan hampir mirip-mirip. Pendapat saya untuk nama di dunia maya, saya lebih suka mengutip pendapat William Shakespeare. “Apalah arti sebuah nama”. Saya hanya ingin dikenal dengan...

Gerakan Islam untuk Kejayaan Bangsa

“Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlaq ”. Hadis ini pasti tidak asing dan sering kita dengar. Sebagian besar dari kita (termasuk saya sendiri), mungkin terdengar biasa saja. Mungkin pula kalau ada kajian di masjid membahas tentang hal tersebut, saat kita pernah mendengarnya secara tidak sengaja, entah sedang mengerjakan tugas (kuliah, rumah, atau pekerjaan kantor yang belum selesai), bermain gawai, atau hanya sedang melamun, dan tiba-tiba kita mendengar hadis itu dalam kajian akhlaq. Kita mendengarkannya sambil lalu. Tidak meresapi sampai ke dalam sanubari.   Jangan tanyakan kepada saya itu hadis riwayat siapa, sahih atau tidak, karena saya sangat jauh kompetensinya dari hal tersebut. Lebih baik bertanya kepada yang menguasai bidang tersebut. Bukan hadisnya yang hendak saya permasalahkan di sini, tapi saya mempermasalahkan sikap sebagian orang yang banyak sekali mengacuhkan nasehat baik. Sudah lama islam mengalami banyak sekali kemunduran da...

Berlaku Adil Sejak Dalam Pikiran

Tidak dipungkiri, setiap kali bertemu seseorang, pertama kali yang kita lihat dari orang tersebut adalah baju apa yang dia pakai, perhiasannya, dan segala sesuatu yang membungkus tubuhnya. Kita mengesampingkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Padahal bisa jadi, mereka dengan pakaian sederhana, dan tampak lusuh dari luar, memiliki kekayaan ilmu yang luar biasa. Namun itulah manusia, sibuk mendandani fisik, dan lupa membenahi apa yang ada dalam pikiran dan jiwanya.  Sekali waktu saya pernah mengikuti demo kenaikan upah buruh pada tahun 2014 di Bundaran HI. Menurut Serikat Pekerja kami, upah buruh masih belum layak, dengan biaya hidup di kota metropolitan yang sangat tinggi. Yang saya kesal dari peristiwa itu bukan apa-apa, melainkan hanya sebuah peristiwa sepele, namun hal itu masih melekat kuat dalam ingatan saya. Salah satu sahabat saya yang juga mengikuti demo tersebut, kebelet ingin buang air kecil. Saya pun mengantarnya kemana-mana ke toilet terdekat. Namun apa yang ...

Mahasiswa, Rakyat, dan Literasi

Saya selalu mempunyai pertanyaan wajib untuk para pelanggan saya yang kebanyakan terdiri dari para mahasiswa atau mahasiswi. “Kakak semester berapa? Jurusan apa? Kenapa mengambil jurusan itu?” Pertanyaan wajib yang selalu saya lontarkan kepada mereka. Tak jarang saya sering kena omelan dari mereka karena ketika mereka datang lagi, saya lupa mereka pernah membeli dagangan saya, dan saya lupa pernah menanyakan hal itu. Saya langsung memasang wajah seorang pemelas yang seolah tak pernah melakukan kesalahan. Jika mereka berasal dari jurusan Psikologi, Sastra (Inggris, Indonesia, Jepang), sosiologi, atau filsafat, saya biasanya akan dengan mudah mengajak mereka mengobrol, atau diskusi singkat. Namun selain jurusan tersebut, Fakultas Kedokteran, Hubungan Internasional, atau Ilmu Politik, otomatis saya mati kutu. Tapi saya tak pernah kehabisan cara. Biasanya saya akan bertanya kepada mereka. “Kakak suka baca? Baca apa? Baca status mantan? Baca buku dong, emang yang kakak pikirkan b...

Slogan, Politik, dan Realitas Masyarakat

Sehat, Senyum, Sabar, Semangat. Slogan tersebut terpasang dengan jelas dengan warna oranye di gerobak tempat saya berjualan. Saya tidak bisa mengklaim diri saya melakukan slogan tersebut atau tidak. Yang menilai adalah pelanggan dan para pembeli saya. Kalau saya mengatakan saya melakukannya, mungkin saja saya menjadi orang munafik yang sok-sokan berlaku bijak. Kalaupun saya mengatakan tidak, maka para pelanggan saya akan lari kepada jajanan makanan yang lain, karena selain kualitas masakan yang kita jual, sikap kita terhadap mereka akan mempengaruhi penjualan. Senyum pada slogan kedua, jika kita bisa mengaplikasikannya dalam sehari-hari, sama artinya dengan kita membagi energi positif kepada orang lain. Bisa jadi dia sedang dirundung masalah hati, akan luruh kesedihannya karena kita memberikan senyum yang tulus kepadanya. Apalagi seandainya kita mampu melakukan keempat slogan tersebut. Membaca untuk mengenal dunia, maka menulis adalah untuk dikenal dunia. Rasanya tidak as...